PESONA REMPAH INDONESIA”, ADA YANG SALAH?

“PESONA REMPAH INDONESIA”, ADA YANG SALAH?

 

 

Tulisan ini membahas tentang contoh penugasan pembuatan produk mata pelajaran sejarah di SMKN 1 Bendo. Berawal dari kesulitan guru yang tergabung dalam MGMPS sejarah untuk menentukan produk mata pelajaran normada. Hal ini terjadi karena kegiatan penilaian akhir semester ditiadakan dan diganti dengan  kegiatan membuat prduk yang layak dijual di semua mata pelajaran. Memanfaatkan bahan yang ada disekitar para siswa, yang saya coba angkat sebagai bahan pembuatan produk.

Tema pameran produk mata pelajaran sejarah kelas X semester ganjil tahun pembelajaran 2021-2022, adalah “Pesona Rempah Indonesia”. Perubahan – perubahan kebijakan kurikulum dalam dunia pendidikan kerap terjadi. Oleh karena itu kurikulum pendidikan  menyesuaikan tuntutan zaman. Sejarah merupakan mata pelajaran normada merasa tertantang ikut ambil bagian dalam menyiapkan generasi muda yang tangguh, kreatif, mandiri dan siap menghadapi industrialisasi. Semula, sejarah diajarkan berorientasi menumbuhkan jiwa dan semangat nasionalisme, kini harus memutar arah. Belajar sejarah harus mampu berperan dalam dunia industri. Keterampilan dikemas dalam penugasan  proyek membuat produk. Persyaratan yang saya ajukan selaku koordinator MGMPS Sejarah, adalah produk masih dalam koridor sejarah. Sejarah diartikan sebagai peristiwa masa lalu. Proses kejadian dari masa pra-aksara sampai sekarang merupakan hubungan kausal atau sebab akibat. Pada kompentensi dasar masyarakat pra-aksara, siswa belajar tentang kearifan lokal. Ditarik lagi, kompentensi dasar kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia abad 16-17 Masehi, salah satu pemicunya adalah kekayaan rempah-rempah di Indonesia. Atas dasar pertimbangan tersebut, selaku koordinator MGMPS berkoordinasi dengan anggota untuk mengangkat tema “PESONA REMPAH INDONESIA”. Namun, pengambilan keputusan memilih produk olahan rempah, menimbulkan beberapa pertanyaan dari guru mata pelajaran lain. Terutama apakah ada relevansi antara membuat produk rempah dengan sejarah?

  1. Latar Belakang

Perubahan kurikulum dalam dunia pendidikan menjadi salah satu faktor munculnya ide membuat produk yang laku untuk di pasarkan. Siswa dibekali kemampuan sikap hingga menumbuhkan karakter positif, pengetahuan, dan keterampilan.  Keterampilan yang sudah kami ajarkan sesuai dengan kurikulum 2013 menghasilkan siswa mampu menyajikan baik secara tertulis maupun lisan kompentensi yang dipelajari. Namun, karena alasan hasil produk sejarah tersebut masih dikategorikan abstrak, belum memiliki “nilai jual”, maka muncullah ide membuat produk yang berbahan dasar berasal dari hasil bumi di lingkungan sekitar siswa. Sebagai guru sejarah, tentunya masih belajar menterjemahkan perubahan menuju kurikulum merdeka. Terlebih masih hal baru. Masalah benar dan tidaknya dalam menafsirkan penugasan proyek produk kepada siswa, dipikir nanti. Yang lebih terpenting adalah proses belajar.

Bahan rempah-rempah tidak sulit untuk mendapatkannya, seperti: cabai, kunyit, jahe, temulawak dan sebagainya. Bahan-bahan itu bisa jadi ditanam di pekarangan rumah siswa. Di pasar tradisional juga mudah diperoleh. Hasil tanaman pekarangan berupa rempah-rempah tersebut, waktu musim panen harganya murah. Hal ini disebabkan oleh hasil panen yang melimpah. Siswa dimotivasi untuk menumbuhkan ide kreatifnya. Rempah-rempah diolah sedemikian rupa menjadi bubuk atau istilahnya instan. Konsumen akan lebih mudah untuk mengkonsumsi. Kemasan dibuat semenarik mungkin. Siswa diajarkan membaca peluang usaha mandiri. Siswa harus mampu menghitung modal, tenaga, biaya yang dikeluarkan, laba yang diinginkan, dengan demikian siswa dapat menentukan harga jual.

Menoleh ke bumbu dapur lainnya, seperti lada, ketumbar, bawang putih dan lainnya. Bumbu-bumbu tersebut diproses dengan menghaluskan dan dikemas rapi. Bumbu tersebut dibuat produk cepat saji. Hal ini membantu para ibu rumah tangga sekaligus wanita karier menghemat waktu dalam proses memasak makanan. Pengusaha kuliner juga sebagai sasaran konsumen produk tersebut.

Rempah-rempah juga dikonsumsi masyarakat ketika terjadi wabah pandemi. Olahan minuman jahe, sereh, temulawak, gula aren dikonsumsi sebagai minuman hangat yang menyehatkan. Kebutuhan masyarakat terhadap bahan minuman tersebut meningkat drastis. Hal ini disebabkan, ramuan ini dipercaya mampu menambah imun. Kekebalan tubuh diperlukan guna menanggulangi penularan wabah covid 19. Virus yang mematikan ini sempat menjadi momok yang menakutkan. Kandungan antioksidan yang dalam rempah-rempah tersebut yang menjadikan permintaan meningkat. Kunyit selain sebagai bahan bumbu dapur, juga digunakan sebagai bahan minuman.

Kegiatan membuat proyek produk rempah-rempah ini masih ranah mata pelajaran sejarah. Mengambil hikmah dari belajar dalam kompentensi dasar masyarakat pra-aksara. Masyarakat pra-aksara yang masih menjaga kearifan lokal. Kearifan lokal tersebut hingga sekarang masih diterapkan oleh sebagian besar masyarakat. Contoh masyarakat masih mempercayakan pada obat herbal ketika mengalami gejala sakit, maupun pada waktu sakit.. Kompentensi dasar berikutnya adalah kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia. Salah satu faktor pemicunya adalah mencari rempah-rempah. Rempah-rempah sebagai hasil kekayaan bumi Indonesia, yang menjadikan Indonesia terjebak dalam kolonialisme dan imperialisme.

Berpijak pada kompentensi dasar masyarakat pra-aksara dan kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia, saya memberanikan diri mengangkat tema “pesona rempah Indonesia”. Pengetahuan tentang rempah-rempah sebagai obat herbal, ataupun bumbu dapur yang memiliki cita rasa tinggi, merupakan warisan leluhur bangsa Indonesia. Tentunya warisan tersebut wajib di pelihara bahkan dilestarikan oleh generasi muda sebagai penerus bangsa.

 

  1. Langkah membuat produk

Para siswa diajak berfikir kritis untuk mengangkat tema produk sesuai mata pelajaran sejarah. Melalui diskusi muncullah ide-ide proyek apa yang akan dibuat. Ada yang berpendapat membuat gambar pahlawan. Ada yang berpendapat membuat tembak-tembakan. Ada yang berpendapat membuat patung. Mereka terperangkap pada pemikiran sejarah sudah berlalu identik dengan perjuangan. Mereka lupa akan esensi dari materi sejarah yang masih relevan pada masa kini. Ide mengolah rempah-rempah menjadi bahan cepat saji cocok dikaitkan dengan kewirausahaan atau dunia industri. Kita sepakati produknya adalah mengolah rempah-rempah, sehingga memiliki nilai jual yang tinggi..

Aktifitas selanjutnya adalah membagi kelompok kerja. Penentuan kelompok dalam satu kelas yang berjumlah 36 siswa menjadi 4 kelompok. Berhubung pelaksanaan pembelajaran tatap muka 50%, maka kelompok dibagi sesuai urutan nomer absen. Satu kelompok beranggotakan 9 siswa, pada masa pandemi sudah efektif dengan mempertimbangkan segi pendanaan. Namun hasilnya harus maximal dan mampu dipasarkan atau bernilai jual. Bekerja secara kelompok mampu sebagai sarana belajar untuk bekerjasama, menghargai orang lain, percaya diri, tanggung jawab, mandiri dan melatih berorganisasi. Mereka harus menentukan ketua kelompok, wakil, sekretaris, bendahara dan anggota. Jika dianggap perlu maka menentukan seksi-seksi, seperti seksi dokumentasi, seksi perlengkapan dan sebagainya.

Siswa diarahkan melakukan literasi digital. Mereka brossing di internet mencari referensi cara membuat produk. Mereka berdiskusi untuk mencapai kesepakatan menentukan produknya. Mereka menentukan bagaimana memperoleh bahannya. Mendiskusikan peralatan yang digunakan. Mendiskusikan dimana membuat produk. Menentukan waktu pembuatan produk. Menentukan pembagian tugas. Menentukan pembuatan dokumentasi dan pembuatan laporan tertulis. Mencari informasi dari berbagai sumber tentang manfaat produk yang dibuat.

Kegiatan berikutnya adalah mempresentasikan laporan pembuatan produk. Satu kelompok dengan produk andalannya maju ke depan untuk dipublikasikan. Anggota kelompok dibagi lagi sebagai moderator, notulen, dan pemateri. Tugas moderator adalah memandu jalannya diskusi. Tugas notulen adalah mengadakan pencatatan. Tugas nara sumber adalah mempresentasikan serta menjawab pertanyaan jika audiens ada yang bertanya. Anggota yang lain diharapkan membantu jika dalam kelompok mengalami kesulitan. Dengan demikian mereka belajar berkolaborasi dengan anggota kelompoknya. Ada juga saran dan masukan dari pembimbing atau guru mata pelajaran mengenai proses pembelajaran dalam jalannya diskusi, hasil produk, dan pelaporan tertulis berupa makalah.

 

  1. Jenis produk rempah-rempah

Rombongan belajar kelas X ada 20 kelas. Produk yang disarankan beberapa alternatif yang ditentukan. Produk yang dihasilkan belum semua maximal. Ada yang gagal produk salah satu faktor penyebabnya adalah kurang memahami materi. Penyebab lainnya adalah kurang memiliki jiwa seni terutama dalam menyajikan dalam kemasan. Selain membuat produk rempah-rempah, mereka diharapkan mengetahui manfaat dari produk tersebut. Adapun produk yang dibuat:

  1. Jahe instan / jahe bubuk .

Jahe bermanfaat untuk kesehatan tubuh. Jahe dapat mengurangi mual, meningkatkan imun, menghilangkan perut bengah, menurunkan gula darah dan mencegah kanker.

  1. Kunyit instan / kunyit bubuk

Kunyit bermanfaat untuk kesehatan, yaitu: meningkatkan daya tahan tubuh, mengobati radang, mengatasi perut yang kembung, menetralisir bau amis dan sebagainya.

  1. Kunyit kering / kunyit yang diiris

Produk kunyit kering berupa rimpang kunyit diiris tipis-tipis kemudian di keringkan. Untuk mengkonsumsinya tinggal merebus kunyit kering untuk minuman kesehatan, Manfaatnya sudah dijelaskan di poin b.

  1. Temulawak instan

Temu lawak bermanfaat untuk memperkuat imunitas tubuh, mencegah dan mengatasi infeksi, mengatasi gangguan pencernaakan, menjaga kesehatan dan fungsi hati, mengendalikan kadar gula darah dan sebagainya.

  1. Cabai bubuk

Olahan cabai bubuk, merupakan cara untuk meningkatkan nilai jual cabai ketika musim panen dan harga jatuh. Bubuk cabai yang dikeringkan dan dihaluskan lebih awet dibandingkan cabai segar. Cabai bubuk digunakan untuk bumbu masakan pedes.

  1. Lada bubuk

Lada yang penampakannya bulat dan keras, cukup memakan waktu untuk menghaluskan. Ide memproduk lada bubuk sebagai ide kreatif membantu ibu-ibu lebih cepat dalam memasak makanan. Lada bermanfaat untuk meredakan hidung tersumbat, mencegah kerusakan sel, menghambat pertumbuhan bakteri dan sebagainya.

  1. Ketumbar bubuk

Ketumbar yang berbentuk bulat kecil, merupakan bumbu dapur yang sering digunakan. Selain sebagai bumbu, ketumbar memiliki manfaat bagi kesehatan, antara lain: menurunkan kadar kolesterol, menurunkan tekanan darah, menurunkan tekanan gula darah dan memberikan nutrisi pada mata.

  1. Kelor bubuk

Kelor bubuk digunakan sebagai pewarna alami makanan, dan bermanfaat untuk kesehatan.

  1. Bawang bubuk

Bawang bubuk memudahkan ibu-ibu membuat sup ayam, kuah bakso dan sebagainya. Bawang putih sendiri memiliki banyak manfaat yaitu: menurunkan kadar kolesterol, menurunkan resiko penyakit kanker, mengurangi resiko diabetes dan menjaga hati.

  1. Mengapresiasi produk

Menyelenggarakan pameran produk mata pelajaran, merupakan salah satu bentuk apresiasi. Siswa diajak terlibat langsung membuat stand pameran. Peralatan apa yang digunakan untuk membuat stand pameran. Bagaimana memperoleh peralatan dan perlengkapan stand pameran. Bagaimana menata stand pameran supaya menarik dipandang. Bagaimana mereka mempromosikan produk kepada pengunjung. Bagaimana mereka menjelaskan kepada pengunjung yang bertanya. Bagaimana sikap mereka menerima pengunjung yang melihat-lihat produk dan sebagainya. Siswa memperoleh pengalaman nyata dalam memasarkan produk.

 

  1. Kesimpulan

Kegiatan membuat produk mata pelajaran, diperlukan untuk mendukung menghadapi perubahan kurikulum menuju kurikulum merdeka. Siswa dibekali keterampilan yang bersifat kompleks dan berkelanjutan. Kegiatan membuat produk mampu menumbuhkan jika kewirausahaan atau life skill. Kegiatan ini menyenangkan karena siswa belajar di luar kelas. Kegiatan ini bermanfaat bagi siswa sebagai sarana belajar praktis. Ke depan diharapkan muncul ide-ide membuat produk yang lebih bermanfaat dalam koridor mencintai produk dalam negeri yang ada benang merahnya dengan sejarah.

Saya berharap tulisan ini menginspirasi teman-teman sesama guru sejarah. Terutama yang membaca tulisan ini dan merasa kesulitan menentukan produk mata pelajaran sejarah. Bagi para siswa yang membaca, semoga ide kreatif ini dapat dijadikan bekal membuka kewirausahaan. Terimakasih telah membaca, serta mohon maaf masih banyak kekurangan.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *